IHSG Melejit Nyaris 2%, 3 Saham Ini Nyaris Mentok ARA

Foto multiple exposure karyawan berswafoto di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022).  Jumlah investor pasar modal Indonesia bertambah signifikan dibandingkan 2021. Berdasarkan data KSEI per 3 November 2022, jumlah investor pasar modal yang mengacu pada Single Investor Identification (SID) telah mencapai 10.000.628 atau naik 33,53% dari 7.489.337 di akhir 2021.  (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Tiga saham terpantau melesat dan nyaris menyentuh auto reject atas (ARA) pada akhir perdagangan sesi II Jumat (17/3/2023), saat IHSG ditutup melejit 1,71%.

Berikut saham-saham yang melesat dan nyaris menyentuh ARA pada akhir perdagangan sesi II hari ini.

Per pukul 15:00 WIB, saham emiten properti yakni PT Metro Realty Tbk (MTSM) menjadi saham yang paling besar penguatannya pada akhir perdagangan sesi II hari ini yakni mencapai 34,41% ke posisi Rp 250/saham. Saham MTWI pun nyaris menyentuh ARA.

Adapun harga Rp 250/saham menjadi batas atasnya pada hari ini, di mana ada antrian jual sebanyak 6.185 lot di order offer.

Selain saham MTSM, adapula saham emiten produsen alat kesehatan yang juga merupakan saham IPO 2023 yakni PT Haloni Jane Tbk (HALO) yang melejit 32,53% ke posisi Rp 220/saham.

Terakhir, ada saham emiten jasa transportasi yakni PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR) yang melonjak hingga 32,5% menjadi Rp 159/saham.

Ketiga saham tersebut sejalan dengan pergerakan IHSG yang ditutup melonjak nyaris 2%, setelah beberapa hari sebelumnya cenderung volatil karena investor khawatir akan dampak dari krisis Silicon Valley Bank (SVB).

Krisis SVB pun sempat berdampak ke beberapa bank lainnya di Amerika Serikat (AS), seperti Signature Bank, dan Silvergate Bank, kemudian bertambah lagi ke First Republic Bank. Bahkan, krisis SVB pun berdampak ke salah satu bank terbesar kedua di Swiss yakni Credit Suisse.

Namun beberapa waktu terakhir, banyak bank terutama di AS yang ingin menyelamatkan First Republic Bank, agar krisis perbankan global tidak makin meluas.

Setidaknya ada 11 bank yang ingin menyelamatkan First Republic Bank, di mana ke-11 bank tersebut sepakat untuk menyetor dana senilai US$ 30 atau sekitar Rp 462 triliun (kurs Rp 15.400) ke First Republic Bank untuk menghindarkan bank tersebut dari kebangkrutan.

Sementara itu di Eropa, Credit Suisse akan menggunakan fasilitas kredit sebesar US$ 54 miliar dari Bank Sentral Swiss (SNB) untuk meningkatkan likuiditasnya.

Di lain sisi, pelaku pasar menyambut baik dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuannya kemarin.

BI mempertahankan suku bunga di level 5,75%. Alasan BI mempertahankan suku bunga juga sudah mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) di kisaran 5,25-5,75%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan The Fed memang akan mempertimbangkan krisis perbankan AS dalam menentukan kebijakan pekan depan. Namun, The Fed akan tetap menjadikan faktor fundamental yakni inflasi.

“Ada potential skenario, The Fed akan menaikkan (suku bunga) 5,5-5,75%. The Fed memang akan mempertimbangkan financial stability tetapi sudah ada langkah-langkah dan program untuk menyelamatkan bank,” imbuh Perry, dalam konferensi pers, Kamis (16/3/2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*