Ekonomi & Politik RI Memanas Pekan Ini, Ada Kampanye-Inflasi

Ekonomi & Politik RI Memanas Pekan Ini, Ada Kampanye-Inflasi

Ilustrasi bearish market vs bullish market

Pasar keuangan Indonesia pada pekan lalu cenderung bervariasi, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergairah, namun untuk rupiah terpantau melemah dan Surat Berharga Negara (SBN) juga terpantau dilepas oleh investor.

Pasar keuangan Indonesia https://www.totogaming.site/ diperkirakan akan volatile pekan ini karena banyaknya kabar genting dalam sepekan ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen sepekan ke depan akan dibahas khusus pada halaman 3 artikel ini.

Sepanjang pekan lalu, IHSG menguat 0,46% secara point-to-point (ptp). Dengan ini, maka IHSG sudah menguat selama empat pekan beruntun.

Dalam lima hari perdagangan pada pekan lalu, IHSG terpantau mencatatkan penguatan sebanyak tiga kali dan melemah sebanyak dua sekali. Sedangkan pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu, IHSG ditutup naik tipis 0,08% ke posisi 7.009,63.

Pada pekan lalu, IHSG juga akhirnya menyentuh kembali level psikologis 7.000, di mana level psikologis ini terakhir dicetak pada 22 September lalu

Data pasar menunjukkan investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy)mencapai Rp 304,77 miliar di seluruh pasar sepanjang pekan lalu. Adapun rinciannya yakni sebesar Rp 83,63 miliar di pasar reguler dan sebesar Rp 221,14 miliar di pasar tunai dan negosiasi.

Sedangkan untuk rupiah, sepanjang pekan lalu melemah 0,45% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) secara point-to-point (ptp). Pada perdagangan akhir pekan lalu, mata uang Garuda ditutup melemah tipis 0,06% di level Rp 15.560/US$.

Kendati pekan ini melemah, sebenarnya tren besar rupiah sepanjang November ini masih dalam penguatan. Bulan ini mencatatkan tren penguatan yang cukup pesat sejak rupiah anjlok paling dalam di akhir bulan lalu nyaris ke Rp16.000/US$.

Sementara di pasar Surat Berharga Negara (SBN), yield atau imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di level 6,881% per akhir pekan lalu, naik 4,7 basis poin (bp) dari posisi akhir pekan sebelumnya di 6,833%.

Yield yang naik menandai harga SBN yang sedang turun dan investor cenderung melepas SBN, terutama investor asing.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang turun, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sentimen positif sejatinya cenderung mendominasi pasar keuangan global pekan lalu. Namun, hal ini hanya direspons positif oleh pelaku pasar saham di RI.

Pertama dari global, dolar AS sudah mulai melandai, terlihat dari data Jumat pekan lalu, di mana indeks dolar (DXY) turun ke posisi103,40, nilai ini menyusut dibandingkan posisi hari sebelumnya sebesar 103,77.

Pelemahan dolar AS terjadi lantaran efek inflasi yang melandai lebih baik dari perkiraan dan mendinginnya kondisi pasar tenaga kerja.

Data terbaru hingga Oktober 2023, menunjukkan arah inflasi sudah makin melandai ke posisi 3,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai tersebut lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,7% (yoy) dan proyeksi pasar yang melandai di 3,3% (yoy).

Sementara dari sisi pasar tenaga kerja yang mendingin tercermin dari data pekerjaan yang tercatat di luar sektor pertanian atau non-farm payroll (NFP) hingga Oktober 2023 berada di angka 150.000, menyusut dari bulan sebelumnya sebesar 297.000 dan lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 180.000. Tingkat pengangguran juga sudah naik ke angka 3,9% dari sebelumnya 3,8%.

Kedua indikator tersebut menjadi kesatuan yang cukup memungkinkan prospek kebijakan moneter akan melunak paling tidak hingga akhir tahun ini.

Menurut alat pemeringkat FedWatch Tool, peluang pemangku kebijakan dalam bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan kembali menahan suku bunga pada rapat FOMC 13 Desember 2023 mendatang sudah berada di 95,50%.

Beralih ke domestik, Bank Indonesia (BI) diketahui mempertahankan suku bunga acuan BI-7 day reverse repo rate (BI7DRR), sebagai hasil rapat dewan gubernur pada 22-23 November 2023. BI rate dipertahankan di level 6%, sama seperti level saat kenaikan bulan lalu sebesar 25 basis points (bp) pada 19 Oktober 2023.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, keputusan ini tetap konsisten dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pencegahan untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor atauimported inflation.

Dengan demikian diharapkan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024.

Ekonom senior sekaligus eks Menteri Keuangan RI, Bambang Brodjonegoro menilai ada sejumlah alasan di balik keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 6%.

Bambang meyakini BI tengah mencoba menyeimbangkan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi pada sisa 2023 sembari menyiapkan landasan pertumbuhan ekonomi tahun depan.

“Saya lihat keputusan BI itu mencoba menyeimbangkan upaya untuk bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di sisa waktu tahun 2023 ini dan juga menyiapkan landasan pertumbuhan ekonomi tahun depan, dan di sisi lain tetap menjaga agar inflasi dalam sasaran,” kata dia kepada CNBC Indonesia, Jumat, (24/11/2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*