Dampak Facebook, Wall Street Hijau Meski Ekonomi AS Longsor

Trader Timothy Nick works in his booth on the floor of the New York Stock Exchange, Thursday, Jan. 9, 2020. Stocks are opening broadly higher on Wall Street as traders welcome news that China's top trade official will head to Washington next week to sign a preliminary trade deal with the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

 Tiga bursa Amerika Serikat (AS) kompak menghijau pada awal perdagangan Kamis (27/4/2023).

Indeks Dow Jones menguat 153,77 poin atau 0,46% ke posisi 33.455,64. Indeks Nasdaq menguat 55,19 poin atau 0,47% ke 11.854,35 sementara indeks S&P terapresiasi 28,26 poin atau 0,69% ke posisi 4.084,37.

Menghijaunya Wall Street menjadi kabar baik mengingat mayoritas bursa ditutup di zona merah kemarin.

Pada perdagangan Rabu (26/4/2023), indeks Dow Jones ditutup melemah dan indeks S&P 500 terkoreksi 0,38%. Hanya indeks Nasdaq yang menguat 0,47%

Pergerakan Wall Street terutama ditopang oleh laporan keuangan induk Facebook, Meta Platforms.

Meta melaporkan pendapatan sebesar US$ 28,65 miliar pada kuartal I-2023, lebih tinggi dibandingkan proyeksi analis yakni US$ 27,65 miliar.

Pengguna aktif harian mereka naik menjadi 2,04 miliar dibandingkan 2,01 miliar yang diperkirakan analis.

Namun, laba bersih jatuh 23% menjadi US$ 5,7 miliar atau US$ 2,20 per lembar saham. Laba jauh lebih kecil dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat US% 7,47 miliar atau US$ 2,72 per lembar saham.

Pelaku pasar mencermati sejumlah data yang dikeluarkan AS hari ini atau Kamis malam waktu Indonesia.

Departemen Perdagangan AS melaporkan ekonomi AS tumbuh melandai 1,1% (year on year/yoy) pada kuartal I-2023, lebih rendah dibandingkan estimasi yakni 2%.

Pertumbuhan pada Januari-Maret 2023 juga jauh lebih rendah dibandingkan pada kuartal IV-2022 yang tercatat 2,6%.

Kendati melandai, ekonomi AS tetap tumbuh dalam tiga kuartal secara berturut-turut.

Melandainya pertumbuhan lebih disebabkan oleh melemahnya investasi. Suku bunga yang tinggi membuat ongkos pinjaman naik sehingga pelaku bisnis mengendurkan ekspansi.

Perlambatan investasi ini menunjukkan jika ekonomi AS sudah mulai terdampak oleh kebijakan ketat bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

Sebagai catatan, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 475 bps menjadi 4,75-5,0% dalam setahun terakhir.

Sebaliknya, konsumsi masih sangat kencang. Konsumsi rumah tangga tumbuh 3,7% (yoy) pada kuartal I-2023, jauh lebih tinggi dibandingkan 1% pada kuartal IV-2022.

Masih panasnya pasar tenaga kerja AS menjadi salah satu alasan mengapa konsumsi masih tetap tinggi di tengah lonjakan inflasi.

Sebagai catatan, inflasi AS memang melanda menjadi 5% (yoy) pada Maret 2023 tetap angkanya masih jauh di atas target The Fed di kisaran 2%.
Maret, dibandingkan 3,7%.

Pertumbuhan yang melandai sementara di sisi lain inflasi masih tinggi inilah yang membuat ekonomi Negara Paman Sam terancam masuk ke fase “stagflasi”.

“Secara keseluruhan, data yang ada mengkonfirmasi jika ada perlambatan ekonomi meskipun belum belum kolaps. Indikator resesi juga masih ada. Dampak kredit yang ketat juga akan tetap berlanjut sehingga ekonomi AS diperkirakan akan segera melemah,” tutur Andrew Hinter, deputy chief US economist dari Capital Economics, dikutip dari BBC.

Departemen Tenaga Kerja AS, hari ini, juga melaporkan jika klaim pengangguran turun 16.000 menjadi 230.000 pada pekan yang berakhir pada 22 April.

Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan 246. 000 pada pekan sebelumnya.  Klaim pengangguran juga jauh lebih kecil dibandingkan ekspektasi pasar yang berada di angka 249.000.

Lebih sedikitnya klaim pengangguran semakin menegaskan jika pasar tenaga kerja AS masih panas sehingga ada kemungkinan inflasi sulit turun secara signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*